Nama
: Desi Andelia Baunsele
Nim
: 2013210028
Kelas
: B
PERTANYAAN:
Keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal
dari latar belakang masalah, identifikasi masalah hingga terbentuknya
kesimpulan atau rekomendasi (Fahmi, 2013). Dimana keputusan yang diambil akan
mempengaruhi cara pencapaian tujuan yang hendak diraih (Dermawan, 2004).
Tugas:
1. Analisis kritis
konsep keputusan tersebut di atas dengan hakekat pendekatan:
a. Teori motivasi:
X;
b. Teori motivasi: Y, dan
c. Teori motivasi:
Z;
2. Dalam
pengambilan keputusan dikenal adanya “dynamic model” bagaimana
hubungan model tersebut dengan filosofis model di bawah ini:
a. Model keputusan
Rasional;
b. Model keputusan
Bounded;
c. Model keputusan
Intuitive;
3. Pada dasarnya
Saudara dicetak menjadi “Leader” yang berkompeten dan professional
sebagai“agent of change and development”, dengan berpegang pada
rumus “L = f ( l, f, s )”. Susun
konsep “decision making process” bila kita berhadapan
dengan “follower” Generasi X pada prinsip sikap “hidup pertama,
kerja kedua”.
JAWABAN :
JAWABAN :
1
A).
MOTIVASI TEORI X
Teknik Motivasi Douglas McGregor: Teori X,
Y, dan Z
TEORI X
Pada tahun 1960, Douglas MC Gregor
mengidentifikasikan dua sudut pandang tentang manajemen, yang dianut dalam tingkatan
manajemen. Dua sudut pand`ng itu, disebut dengan Teori X dan juga Teori Y.
Teori X memandang manusia sebagai pemalas, yang
lebih suka diberi arahan secara detail tentang apa yang harus dilakukan,
menghindari tanggung jawab serta memilki sedikit ambisi. Teori ini
mengungkapkan bahwa manusia menginginkan rasa aman (security) dan mengharapkan
imbalan serta balas jasa yang tinggi. Dari sini bisa disimpulkan pada Teori X
“bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya (fisik dan
keamanan)”. Manajer yang memandang karyawannya seperti itu berkeyakinan bahwa,
supaya pekerjaan bisa tuntas, karyawan harus dikontrol, dipaksa, diancam dengan
disiplin dan dihukum.
Teori
ini berkembang dari pendekatan “ Scientific Management”, yang dikembangkan oleh
Frederick Taylor. Menurut Taylor (1974), sebagian besar orang menganggap kerja
pada dasarnya tidak menyenangkan. Oleh karena itu, uang yang akan mereka
peroleh adalah motivasi utama karyawan berkenan menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk bekerja.
Asumsi
– Asumsi pada Teori X:
Hanya
membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
Orang tidak suka bekerja, sehingga para manajer
harus mengontrol, mengarahkan, memaksa dan mengancam karyawan supaya mereka
bekerja ke arah tujuan-tujuan organisasi. Orang lebih suka diarahkan, untuk
menghindari tanggung jawab, untuk memperoleh rasa aman. Mereka hanya mempunyai
sedikit ambisi,Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai
tujuan organisasi.
Kelebihan Teori X:
Karyawan
bekerja untuk memaksimalkan kebutuhan pribadi
Kelemahan Teori X:
Karyawan
malas Berperasaan irasional Tidak mampu mengendalikan diri dan disiplin Tipe
kepemimpinan pada Teori X ini adalah otoriter, sedangkan gaya kepemimpinannya
berorientasi pada prestasi kerja.
Sebagai
contoh teori X ini adalah sebuah fenomena pemikiran yang terjadi pada
masyarakat pribumi di sekitar pertambangan batu bara di Kalimantan. Mereka
mempunyai etos kerja yang kurang bagus karena latar belakang kekayaan alam yang
mereka miliki.
Dalam
pandangan mereka tidak perlu bersusah payah dalam bekerja, karena bumi yang
mereka pijak sudah menyediakan uang bagi mereka. Apabila mereka butuh uang
lebih, mereka tinggal menggali tanah di halaman rumah mereka yang kaya akan
batu bara. Mereka bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Istilahnya kerja hari ini untuk makan hari ini.
Dalam
mereka bekerja pun mereka memilki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan
perusahaan, namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi
karena mahalnya biaya hidup di sana.
B).
MOTIVASI TEORI Y
Teori Y memandang
karyawan dari sudut pandang yang berbeda. Teori ini beranggapa
bahwa upaya fisik dan mental sebagai bagian yang penting
dan alamiah (natural) dari
aktivitas manusia.
Teori
Y memandang, orang akan melakukan control diri (self control) dan mengarahkan dirinya
sendiri (self direction), jika mereka berkomitmen pada tujuan–tujuan pekerjaan
mereka. Bagi para pimpinan ataupun manajer yang menerima Teori Y, pengembangan
dan pemeliharaan lingkungan kerja yang memuaskan adalah sangat penting untuk
meraih kinerja karyawan yang maksimal. Teori Y muncul dengan di latar belakangi
karya Elton Mayo, dkk (1953) yang sering disebut dengan “ Pendekatan Hubungan
Manusia” (Human Relation Approach). Pendekatan ini menekankan akan pentingnya
peran proses social di tempat kerja. Beliau berpendapat bahwa karyawan ingin
merasa berguna dan penting serta menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial.
Selain itu imbalan yang bersifat non finansial sering lebih penting daripada
uang dalam memotivasi karyawan untuk jangka panjang. Dari semua ini bisa
disimpulkan bahwa pada Teori Y “bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan
tingkat tingginya (harga diri dan aktualiasasi diri).
Asumsi-asumsi pada Teori Y:
Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat
memberikan kepuasan kepada seseorang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan
aktivitas-aktivitas fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada
perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan. Kemampuan untuk berkreativitas
di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan
kepada seluruh karyawan.
Orang secara internal termotivasi untuk mencapai
tujuan-tujuan organisasi yang sudah menjadi bagian dari komitmen mereka. Orang
berkomitmen terhadap tujuan-tujuan sampai pada tahap dimana mereka menerima
imbalan personal ketika mereka mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Orang akan mencari dan menerima tanggung jawab di
bawah kondisi-kondisi yang menguntungkan (favorable). Orang memilki kapasitas
untuk menjadi inovatif dalam memecahkan masalah-masalah dalam organisasi. Orang
itu potensial, namun di bawah sebagian besar kondisi perusahaan, potensi mereka
menjadi tidak termanfaatkan.
Menurut Teori Y ini untuk memotivasi karyawan
hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerjasama dan
ketertarikan pada keputusan. Singkatnya, dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin
tercapainya sasaran.
Jenis motivasi yang diterapkan adalah motivasi
positif, sedangkan tipe kepemimpinannya adalah kepemimpinan partisipatif.
Kelebihan
Teori Y:
Pekerja
menunjukkan kemampuan mengatur diri Tanggung jawab Inisiatif tinggi Pekerja akan
lebih memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan
Kelemahan Teori Y:
Apresiasi diri akan terhambat berkembang karena
karyawan tidak selalu menuntut pada perusahaan. Teori ini beranggapan bahwa
kerja adalah kodrat manusia. Contohnya yang terjadi pada masyarakat perkotaan
di Pulau Jawa, khususnya yang bekerja di perusahaan go public. Mayoritas mereka
mempunyai etos kerja yang tinggi karena ketatnya persaingan di dunia kerja.
Mereka akan bekerja dengan sebaik baiknya, untuk memperoleh kehidupan yang
layak dalam persaingan yang semakin kompleks. Mereka berasumsi jikalau mereka
tidak bekerja dengan baik di perusahaan yang mereka tempati, di luar mereka
banyak orang mengantri untuk menempati posisi mereka saat ini. Sehingga mereka
menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari hidup yang harus mereka jalani
dan berbuat semaksimal mungkin untuk diri mereka.
Contoh lain penerapan teori Y ini terjadi pada para
reporter di media cetak, copy writer di perusahaan periklanan, atau broadcaster
di media televisi. Pada teori Y, kegairahan dan tantangan dalam pekerjaan,
semangat yang mereka bagi dengan rekan kerjanya serta tentang standart dan
hasrat untuk melakukan pekerjaan secara baik.
Semua itu dipandang sebagai pendorong utama yang
memotivasi para karyawan. Dalam teori ini, kemenangan atas sebuah penghargaan
atau mendapatkan penugasan yang dipilihnya lebih berarti daripada kenaikan
gaji.
C). MOVIVASI TEORI Z
Teori Z adalah sebuah pendekatan
manajemen berdasarkan kombinasi dari manajemen Amerika dan manajemen Jepang. Filosofi
manajemen yang ditandai antara lain, hubungan jangka panjanng pekerjaan tetap,
pengambilan keputusan secara konsensus dan tanggung jawab individu dalam
konteks kelompok serta tinjauan kinerja secara regular dan tegas, yang
memberikan umpan balik yang dituntut sebagian besar karyawan.
Teori Z lebih menekankan pada peran dan
posisi karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat para pekerja menjadi
nyaman, betah, senang dan merasa menjadi bagian penting dalam perusahaan.
Dengan demikian, maka karyawan akan bekerja dengan lebih efektif dan efisien
dalam melakukan pekerjannya.
Teori ini menganggap rasa aman
(security) secara khusus mempunyai arti penting. Teori Z ini juga menekankan
perkembangan hubungan kepercayaan (trust relationship) antara pemimpin dan yang
dipimpin. Penekanan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa motivasi orang yang
pertama bersifat internal. Namun perasaan-perasaan itu harus diperktat oleh
komitmen yang jelas terhadap karyawan dari pihak pimpinan.
Teori Z melihat pengambilan keputusan
kolektif dan tanggung jawab kelompok memberikan dukungan sosial yang diperlukan
bagi tercapainya kinerja puncak. Hal tersebut terjadi lewat penciptaan rasa
aman yang memungkinkkan para karyawan menyampaikan ide-ide baru tanpa takut ditolak
ataupun takut gagal. Pada intinya Teori Z ini menitik beratkan pada sikap dan
tanggung jawab para karyawan suatu organisasi.
Asumsi-asumsi
pada Teori Z:
Tangung jawab diberikan
secara perorangan dan mengakui prestasi individu.
Karena
tanggung jawab bersifat individu, maka karyawan bebas bekerja menggunakan
keterampilan yang dimilikinya. Karyawan dipekerjakan seumur hidup, agar terjadi
rasa aman dan loyalitas terhadap perusahaan.
Pengambilan
keputusan dilakukan dengan cara consensus atau secara terbuka. Walaupun akan
memakan waktu yang lebih lama namun tingkat keberhasilan pengimplementasian
hasil keputusan yang didapat akan lebih tinggi karena mendapat dukungan dari
mayoritas karyawan.
Kelebihan
Teori Z:
Upaya
perusahaan untuk mengikat karyawan dengan loyalitas tanpa batas, sehingga
karyawan bekerja dalam sikap yang penuh integritas untuk meningkatkan kinerja
perusahaan.
Kelemahan
Teori Z:
Kemampuan
perusahaan menurun dalam komitmennya untuk tetap mempertahankan karyawan.
Terlebih pada saat terjadi ketidakpastian ekonomi yang merusak sector financial
dan bisnis perusahaan.
Membutuhkan
banyak pengorbanan, karena sifatnya yang holistic d`n kurang sederhana. Pada penerapan teori Z, perusahaan
menganggap karyawan adalah keluarga, Sehingga mereka harus diperlakukan juga
layaknya anggota keluarga mereka sendiri.
Contoh
penerapan teori ini bisa dilihat pada para pekerja seni, khususnya pada profesi
sutradara. Mereka bisa bekerja selama apapun mereka mau dan mereka juga
memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi imajinasi dan kreativitas yang mereka
miliki. Tetapi di lain sisi mereka juga mempunyai tanggung jawab secara
personal kepada PH (Production House) yang menaungi mereka. Keputusan untuk
pengerjaan proyek film pun juga diambil berdasarkan keputusan bersama beberapa
pihak yang tergabung dalam PH tersebut, meliputi investor, produser dll.
2.
A) MODEL PENGAMBILAN
KEPUTUSAN ( Decision Making )
Model adalah percontohan
yang mengandung unsure yang bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika
perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan suatu proses
berurutan yang memerlukan penggunaan model secara cepat dan benar.
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara
lain sebagai berikut:
·
Untuk
mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada
relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu
·
Untuk
memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara
unsur-unsur itu.
·
Untuk
merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel.
Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
·
Untuk
memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.
Model pengambilan keputusan diantaranya:
Rasional, model perilaku manusia
berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan
kalkulasi pemaksimalan nilai, yang secara mendasar konsisten. Pengambialan
keputusan yang rasional merukan proses yang komplek. Tahapan rasional decision
making proses:
·
Mengenal
permasalahan
·
Definisikan
tujuan
·
Kumpulkan
data yang relevan.
·
Identifikasi
alternative yang memungkinkan (feasible).
·
Seleksi
kriteria untuk pertimbangan alternative terbaik.
·
Modelkan
hubungan antara kriteria, data, dan alternative.
·
Prediksi
hasil dari semua alternative.
·
Pilih
alternative terbaik.
Organisasional, model-model
pengambilan keputusan yang memperhitungkan
karakteristik politik dan structural dari organisasi.
Birokrasi, apapun
yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan proses bisnis yang
terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun.
Keputusan klasik (classical dision), berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian.
Merupakan model yang sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial.
Keputusan administrasi, menurut
Herbert Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi 3 kondisi:
·
Informasi
tidak sempurna, dan tidak lengkap.
·
Rasionalitas
yang terbatas (bounded rasionality).
·
Cepat
puas (satisfice).
B) MODEL KEPUTUSAN BOUNDED
Model
yang dibangun atas tesis “bounded rationality” berusaha menggambarkan mengenai
proses pengambilan keputusan sebenarnya yang dijalani manajer; Pengembangan
dari sejumlah model dalam pandangan ini berangkat dari pertanyaan: Apakah
seorang manajer mengambil langkah-langkah mengikut model rasional atau mereka
memilih penentuan proses pengambilan keputusan mengikuti model rasionalitas
yang dibatasi (irasional).
Ø The Satisficing Model
Logis dan rasional dalam batas yang
sempit dikarenakan :
· Informasi tak sempurna
· Kendala waktu, biaya.
· Keterbatasan pemahaman
Langkah-langkah model pengambilan
keputusan :
·
Penetapan
tujuan pengambilan keputusan berkaitan dengan adanya masalah tertentu
·
Menyederhanakan
masalah
·
Penetapan
standar minimum dari serangkaian kriteria keputusan
·
Mengidentifikasi
serangkaian alternatif yang dibatasi
·
Menganalisis
dan membandingkan setiap alternative
·
Apakah
alternatif yang memenuhi syarat keputusan itu ada?
·
Jika
ya, pilih salah satu alternatif yang dianggap terbaik Jika tidak, dilakukan
pencarian alternatif seperti pada langkah 5
Ø The Optimizing Decision Making Model
Menyusun alternatif dengan
memperhitungkan untung rugi untuk setiap alternatif dengan
mempertimbangkan/memperhitungkan/memperkirakan kemungkinan timbulnya
macam-macam kejadian yang akan datang yang merupakan dampak dari kejadian
terhadap alternatif yang dirumuskan. Akan didapat keputusan optimal, karena
setidaknya telah memperhitungkan semua fakta yang berkaitan dengan keputusan
tersebut (memaksimalkan hasil keputusan).
Langkah-langkahnya
:
·
Tetapkan
kebutuhan
·
Identifikasi
kriteria keputusan
·
Alokasikan
bobot nilai pada kriteria
·
Kembangkan
aternatif
·
Evaluasi
alternatif tersebut
·
Pilih
alternatif terbaik
Asumsi
:
·
Berorientasi
tujuan
·
Pengambil
keputusan mengenal semua kriteria yang relevan
·
Secara
rasional semua kriteria dan alternatif sesuai tujuan
·
Pengambil
keputusan memilih peringkat tertinggi dan manfaat maksimum
Ø The Implicit Favorite Model
Dirancang
dalam kaitan dengan keputusan yang kompleks dan tidak rutin. Sama halnya dengan
model satisficinng, pada model ini menyangkut proses penyederhanaan masalah
yang kompleks oleh individu pembuat keputusan. Bedanya dengan satisficing
model, implicity faforite model tidak memasuki tahap
pengambilan keputusan melalui pengevaluasian alternatif yang cukup sulit karena
perlu rasional dan objektif. Pada awal proses keputusan, sipengambil keputusan
sudah cenderung memilih alternatif yang dirasakan paling baik. Biasanya untuk
keputusan yang kompleks dan tidak rutin. Mirip satisficing model, tetapi tidak
memasuki tahap pengambilan keputusan melalui evaluasi alternatif dan pengambil
keputusan sudah memiliki preferency (kecenderungan) dari awal.
Langkah-langaknya
:
·
Penetapan
tujuan.
·
Identifikasi
alternatif dan langsung menetapkan pilihan satu alternatif berdasar
preferensinya.
·
Identifikasi
alternatif lain, kemudian pilih satu alternatif lain sebagai pembanding.
·
Memilih
alternatif yang menjadi idaman pengambil keputusan.
Ø The Intuitive Model
Model ini didefinisikan sebagai
suatu proses bawah sadar/tidak sadar yang timbul atau tercipta akibat
pengalaman yang terseleksi. Model ini tidak berarti sama sekali dilaksanankan
tanpa analisis rasional. Irasional dan rasional saling melengkapi dalam proses
keputusan. Teradapat dua pendekatan dalam menggunakan model ini, yaitu :
·
Front End Approch
Pengambil keputusan mencoba untuk
menghindari menganalisis masalah secara sistematis. Di sini intuisi diberi
kekuasaan penuh untuk mengembangkan suatu gagasan yang mencoba untuk
memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa. Jadi keputusan tidak
dibangun dari data yang lalu.
·
A Back End Approch
Pengambilan keputusan menggunakan
intuisi dengan bersandar pada analisis, rasional, untuk mengidentifikasi dan
mengalikasi bobot nilai kriteria. Seperti halnya untuk mengambang dan
mengevaluasi berbagai alternatif. Pada saat tahap ini sudah dilaksanakan, si
pengambil keputusan beristirahat satu atau dua hari dari kegiatan keputusan
ini, sebelum menentukan pilihan keputusan akhir (final)
C). MODEL
KEPUTUSAN INTUITIVE
Sementara
banyak orang percaya bahwa konsep sepenuh hati, tidak semua melakukan. Itu
mungkin karena mereka tidak benar-benar mengerti apa yang arti intuisi adalah
pengalaman pikiran bawah sadar Anda untuk menyediakan Anda dengan jawaban.
Keputusan itu tanpa rasional, langkah-demi-langkah pemikiran. Ini adalah
kemampuan otak Anda untuk menilai situasi, proses didasarkan pada naluri yang
baik, atau pengetahuan yang mendalam berakar Anda mungkin telah diperoleh
bahkan tanpa disadari, kemudian mengubah bahwa untuk menjadi bagian dari
pengetahuan yang dapat Anda pilih untuk bertindak atas. Apakah Anda memilih
untuk bertindak atas biasanya didasarkan pada seberapa baik Anda percaya Anda
semua memiliki intuisi. Kita semua memiliki kemampuan untuk membuat penilaian
instan ini. Masalahnya adalah, tidak semua orang menyentuh intuisi mereka, atau
mempercayai hal itu untuk membantu mereka membuat keputusan. Ini tidak seperti
kemampuan psikis atau berbicara dengan orang mati! Ini adalah proses yang ilmuwan
percaya terjadi jauh di dalam otak.
3. Abstrak
Proses Pengambilan Keputusan
Terhadap “Follower” Generasi X Pada Prinsip Sikap “Hidup Pertama, Kerja
Kedua”Dalam penulisan artikel ini penulis membahas tentang Proses Pengambilan Keputusan Terhadap “Follower”
Generasi X Pada Prinsip Sikap “Hidup Pertama, Kerja Kedua” permasalahannya : Hanya
membutuhkan Motivasi fisiologis dan keamanan saja. Orang tidak suka bekerja,
sehingga para manajer harus mengontrol, mengarahkan, memaksa dan mengancam karyawan
supaya mereka bekerja ke arah tujuan-tujuan organisasi. Orang lebih suka
diarahkan, untuk menghindari tanggung jawab, untuk memperoleh rasa aman. Mereka
hanya mempunyai sedikit ambisi, Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa
untuk mncapai tujuan organisasi.
Kata
kunci : pengambilan keputusan, generasi
X