Sabtu, 02 Mei 2015

TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Nama : Desi Andelia Baunsele
Nim : 2013210028
Kelas : B

PERTANYAAN: 

Keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar belakang masalah, identifikasi masalah hingga terbentuknya kesimpulan atau rekomendasi (Fahmi, 2013). Dimana keputusan yang diambil akan mempengaruhi cara pencapaian tujuan yang hendak diraih (Dermawan, 2004).
Tugas:
1.       Analisis kritis konsep keputusan tersebut di atas dengan hakekat pendekatan:
a.       Teori motivasi: X;
b.      Teori motivasi: Y, dan
c.       Teori motivasi: Z;
2.       Dalam pengambilan keputusan dikenal adanya “dynamic model” bagaimana hubungan model tersebut dengan filosofis model di bawah ini:
a.       Model keputusan Rasional;
b.      Model keputusan Bounded;
c.       Model keputusan Intuitive;
3.       Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi “Leader” yang berkompeten dan professional sebagai“agent of change and development”,  dengan berpegang pada rumus    “L = f ( l, f, s )”. Susun konsep “decision making process” bila kita berhadapan dengan “follower” Generasi X pada prinsip sikap “hidup pertama, kerja kedua”.

JAWABAN :

1        A).  MOTIVASI TEORI X
            Teknik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z

TEORI X
                   Pada tahun 1960, Douglas MC Gregor mengidentifikasikan dua sudut pandang tentang manajemen, yang dianut dalam tingkatan manajemen. Dua sudut pand`ng itu, disebut dengan Teori X dan juga Teori Y.
Teori X memandang manusia sebagai pemalas, yang lebih suka diberi arahan secara detail tentang apa yang harus dilakukan, menghindari tanggung jawab serta memilki sedikit ambisi. Teori ini mengungkapkan bahwa manusia menginginkan rasa aman (security) dan mengharapkan imbalan serta balas jasa yang tinggi. Dari sini bisa disimpulkan pada Teori X “bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya (fisik dan keamanan)”. Manajer yang memandang karyawannya seperti itu berkeyakinan bahwa, supaya pekerjaan bisa tuntas, karyawan harus dikontrol, dipaksa, diancam dengan disiplin dan dihukum.
                  Teori ini berkembang dari pendekatan “ Scientific Management”, yang dikembangkan oleh Frederick Taylor. Menurut Taylor (1974), sebagian besar orang menganggap kerja pada dasarnya tidak menyenangkan. Oleh karena itu, uang yang akan mereka peroleh adalah motivasi utama karyawan berkenan menghabiskan waktunya berjam-jam untuk bekerja.

Asumsi – Asumsi pada Teori X:
                  Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
Orang tidak suka bekerja, sehingga para manajer harus mengontrol, mengarahkan, memaksa dan mengancam karyawan supaya mereka bekerja ke arah tujuan-tujuan organisasi. Orang lebih suka diarahkan, untuk menghindari tanggung jawab, untuk memperoleh rasa aman. Mereka hanya mempunyai sedikit ambisi,Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi.

Kelebihan Teori X: 
Karyawan bekerja untuk memaksimalkan kebutuhan pribadi

Kelemahan Teori X: 
                  Karyawan malas Berperasaan irasional Tidak mampu mengendalikan diri dan disiplin Tipe kepemimpinan pada Teori X ini adalah otoriter, sedangkan gaya kepemimpinannya berorientasi pada prestasi kerja.
                  Sebagai contoh teori X ini adalah sebuah fenomena pemikiran yang terjadi pada masyarakat pribumi di sekitar pertambangan batu bara di Kalimantan. Mereka mempunyai etos kerja yang kurang bagus karena latar belakang kekayaan alam yang mereka miliki.
                  Dalam pandangan mereka tidak perlu bersusah payah dalam bekerja, karena bumi yang mereka pijak sudah menyediakan uang bagi mereka. Apabila mereka butuh uang lebih, mereka tinggal menggali tanah di halaman rumah mereka yang kaya akan batu bara. Mereka bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Istilahnya kerja hari ini untuk makan hari ini.
                  Dalam mereka bekerja pun mereka memilki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan, namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi karena mahalnya biaya hidup di sana.

B). MOTIVASI TEORI Y
Teori Y memandang karyawan dari sudut pandang yang berbeda. Teori ini beranggapa
bahwa upaya fisik dan mental sebagai bagian yang penting dan alamiah (natural) dari
aktivitas manusia.
Teori Y memandang, orang akan melakukan control diri (self control) dan mengarahkan dirinya sendiri (self direction), jika mereka berkomitmen pada tujuan–tujuan pekerjaan mereka. Bagi para pimpinan ataupun manajer yang menerima Teori Y, pengembangan dan pemeliharaan lingkungan kerja yang memuaskan adalah sangat penting untuk meraih kinerja karyawan yang maksimal. Teori Y muncul dengan di latar belakangi karya Elton Mayo, dkk (1953) yang sering disebut dengan “ Pendekatan Hubungan Manusia” (Human Relation Approach). Pendekatan ini menekankan akan pentingnya peran proses social di tempat kerja. Beliau berpendapat bahwa karyawan ingin merasa berguna dan penting serta menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial. Selain itu imbalan yang bersifat non finansial sering lebih penting daripada uang dalam memotivasi karyawan untuk jangka panjang. Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa pada Teori Y “bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan tingkat tingginya (harga diri dan aktualiasasi diri).

Asumsi-asumsi pada Teori Y:
Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada seseorang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktivitas-aktivitas fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
Orang secara internal termotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang sudah menjadi bagian dari komitmen mereka. Orang berkomitmen terhadap tujuan-tujuan sampai pada tahap dimana mereka menerima imbalan personal ketika mereka mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Orang akan mencari dan menerima tanggung jawab di bawah kondisi-kondisi yang menguntungkan (favorable). Orang memilki kapasitas untuk menjadi inovatif dalam memecahkan masalah-masalah dalam organisasi. Orang itu potensial, namun di bawah sebagian besar kondisi perusahaan, potensi mereka menjadi tidak termanfaatkan.
Menurut Teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerjasama dan ketertarikan pada keputusan. Singkatnya, dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin tercapainya sasaran.
Jenis motivasi yang diterapkan adalah motivasi positif, sedangkan tipe kepemimpinannya adalah kepemimpinan partisipatif.



Kelebihan Teori Y:
Pekerja menunjukkan kemampuan mengatur diri Tanggung jawab Inisiatif tinggi Pekerja akan lebih memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan

Kelemahan Teori Y:
Apresiasi diri akan terhambat berkembang karena karyawan tidak selalu menuntut pada perusahaan. Teori ini beranggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia. Contohnya yang terjadi pada masyarakat perkotaan di Pulau Jawa, khususnya yang bekerja di perusahaan go public. Mayoritas mereka mempunyai etos kerja yang tinggi karena ketatnya persaingan di dunia kerja. Mereka akan bekerja dengan sebaik baiknya, untuk memperoleh kehidupan yang layak dalam persaingan yang semakin kompleks. Mereka berasumsi jikalau mereka tidak bekerja dengan baik di perusahaan yang mereka tempati, di luar mereka banyak orang mengantri untuk menempati posisi mereka saat ini. Sehingga mereka menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari hidup yang harus mereka jalani dan berbuat semaksimal mungkin untuk diri mereka.
Contoh lain penerapan teori Y ini terjadi pada para reporter di media cetak, copy writer di perusahaan periklanan, atau broadcaster di media televisi. Pada teori Y, kegairahan dan tantangan dalam pekerjaan, semangat yang mereka bagi dengan rekan kerjanya serta tentang standart dan hasrat untuk melakukan pekerjaan secara baik.
Semua itu dipandang sebagai pendorong utama yang memotivasi para karyawan. Dalam teori ini, kemenangan atas sebuah penghargaan atau mendapatkan penugasan yang dipilihnya lebih berarti daripada kenaikan gaji.

C).     MOVIVASI TEORI Z
         Teori Z adalah sebuah pendekatan manajemen berdasarkan kombinasi dari manajemen Amerika dan manajemen Jepang. Filosofi manajemen yang ditandai antara lain, hubungan jangka panjanng pekerjaan tetap, pengambilan keputusan secara konsensus dan tanggung jawab individu dalam konteks kelompok serta tinjauan kinerja secara regular dan tegas, yang memberikan umpan balik yang dituntut sebagian besar karyawan.
         Teori Z lebih menekankan pada peran dan posisi karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat para pekerja menjadi nyaman, betah, senang dan merasa menjadi bagian penting dalam perusahaan. Dengan demikian, maka karyawan akan bekerja dengan lebih efektif dan efisien dalam melakukan pekerjannya.
         Teori ini menganggap rasa aman (security) secara khusus mempunyai arti penting. Teori Z ini juga menekankan perkembangan hubungan kepercayaan (trust relationship) antara pemimpin dan yang dipimpin. Penekanan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa motivasi orang yang pertama bersifat internal. Namun perasaan-perasaan itu harus diperktat oleh komitmen yang jelas terhadap karyawan dari pihak pimpinan.
         Teori Z melihat pengambilan keputusan kolektif dan tanggung jawab kelompok memberikan dukungan sosial yang diperlukan bagi tercapainya kinerja puncak. Hal tersebut terjadi lewat penciptaan rasa aman yang memungkinkkan para karyawan menyampaikan ide-ide baru tanpa takut ditolak ataupun takut gagal. Pada intinya Teori Z ini menitik beratkan pada sikap dan tanggung jawab para karyawan suatu organisasi.

Asumsi-asumsi pada Teori Z:

         Tangung jawab diberikan secara perorangan dan mengakui prestasi individu.
Karena tanggung jawab bersifat individu, maka karyawan bebas bekerja menggunakan keterampilan yang dimilikinya. Karyawan dipekerjakan seumur hidup, agar terjadi rasa aman dan loyalitas terhadap perusahaan.
Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara consensus atau secara terbuka. Walaupun akan memakan waktu yang lebih lama namun tingkat keberhasilan pengimplementasian hasil keputusan yang didapat akan lebih tinggi karena mendapat dukungan dari mayoritas karyawan.
Kelebihan Teori Z:
Upaya perusahaan untuk mengikat karyawan dengan loyalitas tanpa batas, sehingga karyawan bekerja dalam sikap yang penuh integritas untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
  
Kelemahan Teori Z:
Kemampuan perusahaan menurun dalam komitmennya untuk tetap mempertahankan karyawan. Terlebih pada saat terjadi ketidakpastian ekonomi yang merusak sector financial dan bisnis perusahaan.
Membutuhkan banyak pengorbanan, karena sifatnya yang holistic d`n kurang sederhana. Pada penerapan teori Z, perusahaan menganggap karyawan adalah keluarga, Sehingga mereka harus diperlakukan juga layaknya anggota keluarga mereka sendiri.
Contoh penerapan teori ini bisa dilihat pada para pekerja seni, khususnya pada profesi sutradara. Mereka bisa bekerja selama apapun mereka mau dan mereka juga memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi imajinasi dan kreativitas yang mereka miliki. Tetapi di lain sisi mereka juga mempunyai tanggung jawab secara personal kepada PH (Production House) yang menaungi mereka. Keputusan untuk pengerjaan proyek film pun juga diambil berdasarkan keputusan bersama beberapa pihak yang tergabung dalam PH tersebut, meliputi investor, produser dll.

2.     A) MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN ( Decision Making )

   Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan  suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan model secara cepat dan benar.
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
·         Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu
·         Untuk memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu.
·         Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
·         Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.

Model pengambilan keputusan diantaranya:
Rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai, yang secara mendasar konsisten. Pengambialan keputusan yang rasional merukan proses yang komplek. Tahapan rasional decision making proses:
·         Mengenal permasalahan
·         Definisikan tujuan
·         Kumpulkan data yang relevan.
·         Identifikasi alternative yang memungkinkan (feasible).
·         Seleksi kriteria untuk pertimbangan alternative terbaik.
·         Modelkan hubungan antara kriteria, data, dan alternative.
·         Prediksi hasil dari semua alternative.
·         Pilih alternative terbaik.
Organisasional, model-model pengambilan keputusan yang memperhitungkan  karakteristik politik dan structural dari organisasi.
Birokrasi, apapun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun.
Keputusan klasik (classical dision), berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Merupakan model yang sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial.
Keputusan administrasi, menurut Herbert Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi 3 kondisi:
·         Informasi tidak sempurna, dan tidak lengkap.
·         Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality).
·         Cepat puas (satisfice).

B) MODEL KEPUTUSAN BOUNDED
Model yang dibangun atas tesis “bounded rationality” berusaha menggambarkan mengenai proses pengambilan keputusan sebenarnya yang dijalani manajer; Pengembangan dari sejumlah model dalam pandangan ini berangkat dari pertanyaan: Apakah seorang manajer mengambil langkah-langkah mengikut model rasional atau mereka memilih penentuan proses pengambilan keputusan mengikuti model rasionalitas yang dibatasi (irasional).
Ø  The Satisficing Model
Logis dan rasional dalam batas yang sempit dikarenakan :
·      Informasi tak sempurna
·      Kendala waktu, biaya.
·      Keterbatasan pemahaman

Langkah-langkah model pengambilan keputusan :
·         Penetapan tujuan pengambilan keputusan berkaitan dengan adanya masalah tertentu
·         Menyederhanakan masalah
·         Penetapan standar minimum dari serangkaian kriteria keputusan
·         Mengidentifikasi serangkaian alternatif yang dibatasi
·         Menganalisis dan membandingkan setiap alternative
·         Apakah alternatif yang memenuhi syarat keputusan itu ada?
·         Jika ya, pilih salah satu alternatif yang dianggap terbaik Jika tidak, dilakukan pencarian alternatif  seperti pada langkah 5
Ø  The Optimizing Decision Making Model
Menyusun alternatif dengan memperhitungkan untung rugi untuk setiap alternatif dengan mempertimbangkan/memperhitungkan/memperkirakan kemungkinan timbulnya macam-macam kejadian yang akan datang yang merupakan dampak dari kejadian terhadap alternatif yang dirumuskan. Akan didapat keputusan optimal, karena setidaknya telah memperhitungkan semua fakta yang berkaitan dengan keputusan tersebut (memaksimalkan hasil keputusan).

Langkah-langkahnya :
·         Tetapkan kebutuhan
·          Identifikasi kriteria keputusan
·         Alokasikan bobot nilai pada kriteria
·         Kembangkan aternatif
·         Evaluasi alternatif tersebut
·         Pilih alternatif terbaik

Asumsi :
·         Berorientasi tujuan
·          Pengambil keputusan mengenal semua kriteria yang relevan
·          Secara rasional semua kriteria dan alternatif sesuai tujuan
·         Pengambil keputusan memilih peringkat tertinggi dan manfaat maksimum

Ø  The Implicit Favorite Model
Dirancang dalam kaitan dengan keputusan yang kompleks dan tidak rutin. Sama halnya dengan model satisficinng, pada model ini menyangkut proses penyederhanaan masalah yang kompleks oleh individu pembuat keputusan. Bedanya dengan satisficing model, implicity faforite model  tidak memasuki tahap pengambilan keputusan melalui pengevaluasian alternatif yang cukup sulit karena perlu rasional dan objektif. Pada awal proses keputusan, sipengambil keputusan sudah cenderung memilih alternatif yang dirasakan paling baik. Biasanya untuk keputusan yang kompleks dan tidak rutin. Mirip satisficing model, tetapi tidak memasuki tahap pengambilan keputusan melalui evaluasi alternatif dan pengambil keputusan sudah memiliki preferency (kecenderungan) dari awal.
Langkah-langaknya :
·         Penetapan tujuan.
·         Identifikasi alternatif dan langsung menetapkan pilihan satu alternatif berdasar preferensinya.
·         Identifikasi alternatif lain, kemudian pilih satu alternatif lain sebagai pembanding.
·         Memilih alternatif yang menjadi idaman pengambil keputusan.
Ø  The Intuitive Model
Model ini didefinisikan sebagai suatu proses bawah sadar/tidak sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi. Model ini tidak berarti sama sekali dilaksanankan tanpa analisis rasional. Irasional dan rasional saling melengkapi dalam proses keputusan. Teradapat dua pendekatan dalam menggunakan model ini, yaitu :
·         Front End Approch
Pengambil keputusan mencoba untuk menghindari menganalisis masalah secara sistematis. Di sini intuisi diberi kekuasaan penuh untuk mengembangkan suatu gagasan yang mencoba untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa. Jadi keputusan tidak dibangun dari data yang lalu.
·         A Back End Approch
Pengambilan keputusan menggunakan intuisi dengan bersandar pada analisis, rasional, untuk mengidentifikasi dan mengalikasi bobot nilai kriteria. Seperti halnya untuk mengambang dan mengevaluasi berbagai alternatif. Pada saat tahap ini sudah dilaksanakan, si pengambil keputusan beristirahat satu atau dua hari dari kegiatan keputusan ini, sebelum menentukan pilihan keputusan akhir (final)

C). MODEL KEPUTUSAN INTUITIVE
Sementara banyak orang percaya bahwa konsep sepenuh hati, tidak semua melakukan. Itu mungkin karena mereka tidak benar-benar mengerti apa yang arti intuisi adalah pengalaman pikiran bawah sadar Anda untuk menyediakan Anda dengan jawaban. Keputusan itu tanpa rasional, langkah-demi-langkah pemikiran. Ini adalah kemampuan otak Anda untuk menilai situasi, proses didasarkan pada naluri yang baik, atau pengetahuan yang mendalam berakar Anda mungkin telah diperoleh bahkan tanpa disadari, kemudian mengubah bahwa untuk menjadi bagian dari pengetahuan yang dapat Anda pilih untuk bertindak atas. Apakah Anda memilih untuk bertindak atas biasanya didasarkan pada seberapa baik Anda percaya Anda semua memiliki intuisi. Kita semua memiliki kemampuan untuk membuat penilaian instan ini. Masalahnya adalah, tidak semua orang menyentuh intuisi mereka, atau mempercayai hal itu untuk membantu mereka membuat keputusan. Ini tidak seperti kemampuan psikis atau berbicara dengan orang mati! Ini adalah proses yang ilmuwan percaya terjadi jauh di dalam otak.
3.      Abstrak
           Proses Pengambilan Keputusan Terhadap “Follower” Generasi X Pada Prinsip Sikap “Hidup Pertama, Kerja Kedua”Dalam penulisan artikel ini penulis membahas tentang Proses  Pengambilan Keputusan Terhadap “Follower” Generasi X Pada Prinsip Sikap “Hidup Pertama, Kerja Kedua” permasalahannya : Hanya membutuhkan Motivasi fisiologis dan keamanan saja. Orang tidak suka bekerja, sehingga para manajer harus mengontrol, mengarahkan, memaksa dan mengancam karyawan supaya mereka bekerja ke arah tujuan-tujuan organisasi. Orang lebih suka diarahkan, untuk menghindari tanggung jawab, untuk memperoleh rasa aman. Mereka hanya mempunyai sedikit ambisi, Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi.

Kata kunci : pengambilan keputusan, generasi  X